Selamat datang di www.amali-muadz.cf                                                                                                                          Mari saling berbagi Informasi                                                                                                                          Jika kalian masih berbaring bermalas-malasan, maka duduklah untuk berfikir sejenak, merencanakan tujuan hidup yang lebih baik.                                                                                                                           Jika engkau telah duduk, maka bangkitlah berdiri untuk mempersiapkan meraih apa yang telah engkau rencanakan.                                                                                                                           Jika engkau telah berdiri maka berlarilah, gapailah cita-cita atau tujuan yang telah engkau impikan.                                                                                                                           Tidak ada kata terlambat untuk memulai hal yang lebih baik.

Sabtu, 17 Desember 2011

Sejarah Perkembangan Pesantren di Jambi

Pondok Pesantren Nurul Iman

Jika kita berbicara tentang sejarah dan perkembangan Pondok Pesantren di Jambi ini, maka hal tersebut tidak terlepas dari keberadaan Langgar Putih yang banyak mempengaruhi keberadaan Pesantren-pesantren di Jambi. Langgar Putih berlokasi di Kelurahan Ulu Gedong, didirikan pada tahun 1868 oleh Asy Syeh Khotib Mas’ud, selain sebagai tempat peribadatan masyarakat Ulu Gedong dan masyarakat Seberang Kota Jambi, Langgar Putih juga dijadikan sebagai sarana pendidikan Agama Islam. Setelah beliau wafat ditahun 1889, usaha beliau dilanjutkan oleh keponakannya sekaligus anak angkatnya yaitu Guru Haji Abdul Majid Jambi, yang pada waktu belajarnya di Mekkah seangkatan dengan Syekh Ahmad Khotib al-MinangKabawi.

Pada masa Guru Haji Abdul Majid Jambi inilah di Langgar Putih mulai mengadakan pengajian Kitab Kuning di daerah Kesultanan Jambi dan berlangsung hingga tahun 1904 karena beliau harus hijrah ke Mekkah gua menghindari penangkapan penjajah Belanda. Hal tersebut karena selain sebagai seorang Guru beliau juga sebagai penasehat Sulthan Thaha Syaifuddin Jambi.

Di Mekkah beliau kembali membuka pengajian di rumah kediamannya di Kampung Samiyah, diantara muridnya adalah :
  1. H. Ahmad bin Abdusy Syakur, Pendiri Madrasah Sa’adatuddaren Tahtul Yaman.
  2. H. Ibrahim bin H. Abdul Madjid, Pendiri dan Mudir pertama Madrasah Nurul Iman Ulu Gedong.
  3. H. Abdus Shamad bin H.Ibrahim Hoofd, Penghulu yang pertama.
  4. Kemas H. Muhammad Saleh binKemas H. Muhammad Yasin, pendiri Madrasah Nurul Islam Tanjung Pasir.
  5. H. Usman bin H. Ali, pendiri Madrasah Al Jauharain Tanjung Johor.
  6. Syekh Muhammad Djamil Jaho, di Jaho Sumatera Barat.
  7. Sulaiman Ar-Rosuli Candung.
  8. Sayyid Alwi bin Muhammad bin Syihab, Sungai Asam Jambi.
Pengajian di Langgar Putih kembali dibuka oleh Haji Ibrahim Putra Guru Haji Abdul Majid Jambi yang mendirikan Madrasah Nurul Iman Ulu Gedong. Langgar Putih ini berfungsi sebagai lembaga pendidikan kembali pada tahun 1946 hingga tahun 1951 oleh K.H. Abdul Qodir Ibrahim.

Pondok Pesantren Nurul Iman ini adalah salah satu hasil rintisan sebuah organisasi sosial bernama Perukunan “Tsamaratul Insan”, organisasi yang didirikan berdasarkan izin Residen Negeri Jambi nomor 1636 sebagaimana tercantum dalam peraturan pendiriannya yang dibuat di
Jambi pada tanggal 10 Nopember 1915, bertepatan dengan 1 Zulqa’idah 1333 H.

Organisasi sosial “Tsamaratul Insan” ini, sebagaimana terlihat pada peraturan (akta) pendiriannya, mempunyai maksud dan tujuan untuk mempersatukan masyarakat Islam Jambi  dan mengkoordinir mereka terutama dalam masalah-masalah sosial seperti kemalangan,  kematian, kesehatan, pendidikan dan sebagainya.

Organisasi ini pada awal berdirinya dipimpin oleh :

  1. H. Abdus Shamad bin H.Ibrahim (Hoofd Penghulu Jambi)
  2. H. Ibrahim bin H. AbdulMadjid (Kampung Tengah)
  3. H. Ahmad bin Abdusy Syakur (Kampung  Tahtul  Yaman)
  4. H. Usman bin H. Ali (Kampung Tanjung Johor)
  5. Kemas H. Muhammad Saleh binKemas H. Muhammad Yasin (Kampung Tanjung Pasir)
  6. Sayyid Alwi bin Muhammad bin Syihab (Kampung Pasar).
Melalui organisasi inilah, mereka kemudian merintis berdirinya Nurul Iman dan tiga Madrasah tertua lainnya di Jambi, yaitu Sa’adatud Darein di Kampung Tahtul Yaman, Nurul Islam di kampung Tanjung Pasir dan al-Jauharein Kampung Tanjung Johor. 

Tsamaratul Insan mempunyai program kerja pengembangan kesejahteraan masyarakat seberang. Empat butir perencanaan sebagai hasil pemikiran ulama saat itu dalam mengantisipasi masa depan tertulis dalam dokumen  perukunan,  yaitu: 

  1. Membuka perkebunan yang hasilnya dipergunakan untuk kelangsungan hidup organisasi
  2. Mendirikan pesantren sebagai tempat mengajarkan ilmu pengetahuan agama
  3. Memakmurkan masjid dan surau serta memelihara tanah pemakaman kaum Muslimin
  4. Mengadakan tanah wakaf dan rumah sakit bagi kaum Muslimin, yang hasilnya dimanfaatkan bagi kepentingan perjuangan agama.
 
Pada tahun 1915 pengurus Tsamaratul Insan mulai mewujudkan programnya, antara lain mendirikan Pesantren Buluh. Dinamai “Buluh” karena bahan bangunan pesantren terbuat dan bambu (buluh). Pada mulanya kegiatan pesantren ini baru dalam tahap mengajarkan baca-tulis huruf  al-Qur’an kepada anak-anak setempat. Pelajaran ini mendapatkan perhatian sangat besar, sehingga banyak di antara penduduk yang mengirimkan anak mereka belajar ke pesantren.

Guru H. Abdul Shamad, yang Hoofd Penghulu itu berusaha meyakinkan Belanda, bahwa pembangunan pesantren hanya dimaksudkan sebagai tempat mempelajari ilmu keislaman bagi para santri. Bila pemerintah Belanda melarangnya, dapat  menimbulkan keresahan dan ketidak-senangan rakyat terhadap Belanda. Dengan pendekatan tersebut, pemerintah Belanda akhlrnya menyetujui rencana pembangunan pesantren yang lebih permanen. Untuk mengawasi pelaksanaan  pembangunannya, Belanda mengirim Sayyid Alibin Abdurrahman al-Musawwa, seorang pengusaha keturunan Arab dan Palembang yang mengetahui masalah bangunan, sekaligus bertindak sebagai perpanjangan tangan Belanda mengawasi kegiatan pesantren. Karena dia keturunan Arab yang faham masalah agama, dia dianggap sebagai ulama, tetapi bukan guru.

Dengan bergotong-royong, dibangunlah gedung pesantren yang permanen sebagai pengganti Pesantren Buluh, yang dibeni nama Nurul Iman, sebagai pesantren pertama di seluruh daerah Jambi pada masa itu.

Sumber :


Lihat Daftar Isi Lengkap disini

0 komentar: