Selamat datang di www.amali-muadz.cf                                                                                                                          Mari saling berbagi Informasi                                                                                                                          Jika kalian masih berbaring bermalas-malasan, maka duduklah untuk berfikir sejenak, merencanakan tujuan hidup yang lebih baik.                                                                                                                           Jika engkau telah duduk, maka bangkitlah berdiri untuk mempersiapkan meraih apa yang telah engkau rencanakan.                                                                                                                           Jika engkau telah berdiri maka berlarilah, gapailah cita-cita atau tujuan yang telah engkau impikan.                                                                                                                           Tidak ada kata terlambat untuk memulai hal yang lebih baik.

Jumat, 09 Desember 2011

Seloko Adat Jambi





Seloko adat Jambi adalah ungkapan yang mengandung pesan, amanat petuah, atau nasehat yang bernilai etik dan moral, serta sebagai alat pemaksa dan pengawas norma-norma masyarakat agar selalu dipatuhi. Isi ungkapan seloko adat Jambi meliputi peraturan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya dan kaidah-kaidah hukum atau norma-norma, senantiasa ditaati dan dihormati oleh masyarakatnya karena mempunyai sanksi. Ungkapan-ungkapan Seloko adat Jambi dapat berupa peribahasa, pantun atau pepatah petitih.

Seloko adat Jambi tidak hanya sekedar peribahasa, pepatah-petitih atau pantun-pantun, lebih dalam lagi seloko adat Jambi merupakan pandangan hidup atau pandangan dunia yang mendasari seluruh kebudayaan Jambi. Seloko adat Jambi sebagai suatu filsafat yang dirumuskan secara eksplisit dalam peribahasa, pepatah-petatah atau pantun-pantun tetapi masih bersifat implisit yang tersembunyi dalam fenomena kehidupan masyarakat Jambi. Seloko adat Jambi adalah sarana masyarakatnya merefleksikan diri akan hakikat kebudayaan, pemahaman mendasar dari pesan, dan tujuan dari sebuah kebudayaan.

Seloko adat Jambi sebagai ekspresi bermakna ganda yaitu tidak terbatas pada struktur naratif yang tersurat tetapi pada dimensi-dimensi yang tersirat. Teks-teks seloko adat Jambi tidak hanya dimengerti secara harfiah tetapi hams ditafsirkan secara simbolik dan metafisik. Tujuannya adalah untuk mencari makna yang hendak disampaikan lewat teks tersebut berupa konsepsi filosofis (konsepsi paling dasariah mengenai hakikat manusia, dunia, dan Tuhan). Dengan kata lain di dalam makna harfiah atau literal, primer yang secara langsung ditunjukkan. Bersamaan dengan itu ditunjukkan pula makna lain yang tidak langsung, sekunder, kiasan dan hanya dapat dipahami berdasarkan makna yang pertama.  

Sebagai contoh, dalam hal pengambilan keputusan dalam pemerintahan, seloko adat Jambi menyebutkan “berjenjang naik bertanggo turun, turun dari takak nan di atas, naik dari takak nan di bawah” seloko adat tersebut mempunyai pengertian bahwa dalam pengambilan keputusan terdapat tingkatan-tingkatan pengambilan keputusan. Mulai dari pengambil keputusan tertinggi “Alam nan Berajo” sampai pengambil keputusan di tingkat paling bawah “Anak nan Berbapak, Kemenakan nan Bermamak”.

Selanjutnya, begitu juga dalam hal berkelompok atau berorganisasi, di dalam masyarakat Jambi mengenal nilai-nilai kegotong-royongan, hal ini tergambar dalam seloko adat “Ringan samo dijinjing, berat samo dipikul, ke bukit samo mendaki, ke lurah samo menurun, malang samo merugi, belabo samo mendapat”. Dalam berorganisasi ini, juga senantiasa mengacu kepada nilai-nilai kemufakatan. Banyak seloko adat Jambi yang menggambarkan pentingnya bermufakat dalam berorganisasi, antara lain “Bulat aek dek pembuluh, bulat kato dek mufakat, Kato sorang kato bapecah kato besamo kato mufakat, duduk sorang besempit-sempit duduk besamo belapang-lapang”.

Beberapa Seloko adat ini juga mengatur dalam hal pergaulan sehari-hari. “Bejalan Peliharo kaki, jangan sampai tepijak kanti, becakap peliharo lidah, jangan sampai kanti meludah, jangan menggunting kain dalam lipatan, menohok kawan seiring”.

“Batang pulai berjenjang naik, meninggalkan ruas dengan buku, Manusio berjenjang turun meninggalkan perangai dengan laku”.
Jadi, berbuat baiklah selalu sesuai dengan akar budayo kito orang Jambi.

Istilah azas pembuktian “ Jiko tepijak benang arang hitam tapak, jiko tersuruk di gunung kapur putih tengkuk” sehingga dalam pembuktian ini bisa dibuktikan yang salah tetap salah dan yang benar tetap benar “yang melintang patah, yang membujur lalu”.

Contoh lainnya :

a.   Janganlah Telunjuk lurus, kelingking bekait artinya janganlah lain di kata lain di hati
b.   Jangan menggunting kain dalam lipatan, menohok kawan seiring artinya jangan menghianati kawan sendiri
c.   Hendaknyo masalah iko Jatuh ke api hangus, jatuh ke aek hanyut artinya hendaknya masalah ini cukup selesai di sini/cukup sampai di sini
d.   Hendaknyo tibo nampak muko, balik nampak punggung artinya hendaknya datang secara baik-baik, pergi juga secara baik-baik
e.   Awak pipit nak nelan jagung artinya impian yang terlalu besar, impian yang tidak mungkin
f.    Pegi macang babungo, balik macang bapelutik artinya istilah yang dipakai untuk orang yang merantaunya hanya sebentar
g.   Kalu aek keruh di muaro, cubo tengok ke hulu artinya Kalau ada suatu masalah terjadi, cobalah lihat dulu penyebabnya
h.   Tepagar di kelapo condong, batang di awak buah di kanti  Istilah ini dipakai untuk yang salah menikahi pasangannya, raga millik kita tapi cinta milik orang lain
i.    Adat selingkung negeri, undang selingkung alam
j.    Kampung bepagar adat, tepian bepagar bahaso
k.   Sawah dalam ado mutlaknyo, ladang panjang ado batasnyo
l.    Ambik contoh kepado yang telah sudah, ambik tuah kepado yang menang
m. Rami ngeri di nan mudo, elok negeri di nan tuo
n.   Duduk sorang besempit-sempit, duduk basamo balapang-lapang
o.   Naik idak bepucuk, turun idak berakar, tengah-tengah diakuk kumbang, ke rimbo diterkam harimau, ke air ditangkap buayo.
p.   Jangan sampe bepanas dalam belukar.
q.   Anak dipangku, ponakan dibimbing.
r.    Ke aek bebungo pasir, ke darat bebungo rimbo adolah hak rajo
s.   Nan buto penumbuk tepung, nan pekak pelepas meriam, nan lumpuh penunggu rumah, nan patah pengalau ayam
t.    Jerat idak kan lupo pado pelanduk
u.   Mahal rumput daripado kudo
v.   Arang habis, besi binaso





source:
Berbagai sumber
Tesis ("Makna Simbolik Seloko Adat Jambi (Suatu Tinjauan Filosofis)" tahun 2004




Lihat Daftar Isi Lengkap disini

2 komentar:

Anonim mengatakan...

kutipan definisi seloko adat Jambi itu dikutip dari mano? bermakna ganda dan metafisik apo yo artinyo?

Amali Muadz mengatakan...

Defininya dikutip dari tesis yg ditulis Nurhasanah yg berjudul "Makna Simbolik Seloko Adat Jambi (Suatu Tinjauan Filosofis)" tahun 2004
masalah makna silahkan di fahami sendiri, krn menrut sya sudah jelas apa lgi di lihat dari contoh2 seloko itu sendiri